Shubuh itu dia berpeluh Mengeja AsmaNya melawan sekujur peluh Shubuh itu dia bertaruh Demi nyawa didalam tubuh Nafasnya satu-satu Seperti dicekik hantu Mungkin juga lelah karena Izrail kebal rayu Meregang dia taruhkan nyawa satu Demi yang satu Demi aku yang tak pandai mengeja AsmaMu Ibu, Bagaimana jika ku ada tanpamu?
Baca SelengkapnyaBaru kemarin saat kita bicara sambil menatap ubin Katamu tak ada yang tak mungkin Karena terang bisa didapat pada lilin Walaupun nyala tiada sama Biar bagaimana terang berarti nyala Katamu dibalik mata kaca Terang, tak sampai-sampai nyalanya padaku Mungkinkah kau tahu? Labirin sunyi kini memerangkapku
Baca SelengkapnyaBerbaris Sepuluh Wanita berkebaya lusuh Caping menutup muka keruh Menunggu riuh Dibawah matahari penuh Berkawan peluh Dimana kau? Dimana janji madu? Dimana lelakiku?
Baca SelengkapnyaAda yang memburu rimba hati ini Apalagi saat mata menjaga sunyi malam Ada yang memburu hingga ke dinding lamunan Tak hiraukan walau bendera ketakutan ku kibarkan dari tiap helai roma Keringat menganak sungai Padahal tamparan embun dan angin malam harusnya membuat gigil "pergilah!" suaraku tak pernah sampai tercekat dilorong tekak "…
Baca SelengkapnyaKabut itu merah jambu Menutup hijaunya rumput Dimana kita direngkuh bumi Kabut itu merah jambu Membias diputihnya awan Dimana kita terbang ditarik langit Kabut itu merah jambu Menempel didua pipi Melekat disatu hati Ah ya, kabut itu merah jambu
Baca Selengkapnya
Social Plugin