Sumpah gue benci banget sama angka 25, angka yang bikin gue cenat-cenut gara-gara mama mulai membombardir dengan perintah-perintah supaya gue cepat merenda kehidupan berumah tangga, halaaah…

Sejujurnya gue bukan enggak mau menikah tapi sampai saat ini gue belum menemukan sosok yang klik untuk gue jadiin the one and only. Bukan persoalan fisik, buat gue itu urutan terakhir andai harus dibuat list laki-laki seperti apa yang mau dijadiin pendamping hidup.

Gue cuma pengen laki-laki yang bisa nemenin gue hujan-hujanan meski tak ada pelangi yang bisa kami nikmati setelah hujannya usai,. Laki-laki yang ngebolehin gue pakai high heels dan menggenggam erat tangan gue supaya gue bisa berjalan seimbang. Laki-laki yang membutuhkan gue seperti gue membutuhkan dia. Laki-laki yang mati bila sepi sebagaimana gue pun mati kalau kesepian. Laki-laki yang memberikan keteduhan saat gue mengajak dia berlari-lari ditengah padang gersang. Intinya bukan laki-laki yang sekedar berkata aku mencintaimu.

Untuk laki-laki seperti itu gue rela membutakan mata, menulikan telinga, membisukan mulut gue dari segala macam susah, sakit, dan marah. Cuma masalahnya gue belum menemukan laki-laki seperti itu sampai akhirnya sekarang gue berada dibawah ultimatum mama untuk menerima perjodohan yang diatur mama :(

***

“Mama kasih waktu selama 25 hari, kalau sampai batas waktu yang ditentukan kamu belum menemukan prince charmingmu itu, sudah tidak ada alasan lagi kamu menolak perjodohan ini!”, kata-kata mama semalam terus menghantui merusak konsentrasiku ditengah setumpuk kerjaan didepan mataku.

“Woiii, Dini ngelamun aja emang udah beres kerjaan lu?”, Nina mengagetkanku.

“Iih, apaan sih?! Rese banget jadi orang!”

“Deuw, yang lagi sensi. PMS lu ya? Kenapa sih muka lu keruh gitu”

“Nyokap mau jodohin gue, Nin. Dan gue Cuma dikasih waktu dua puluh lima hari buat nyari prince charming. lu tahu sendiri kan kalau gue high quality jomblo itu artinya gue nggak dalam status in relationship sama laki-laki manapun. Huhuhu… Nyokap gue kesambet ortunya Siti Nurbaya kali ya.

“Hahaha… dasar dudul! Sembarangan aja nih kalau ngomong, pulang ke rumah minta ampun lu. Yang begituan aja dipusingin. Ikutan kontak jodoh aja, gimana?”

“Hah?! Kontak jodoh? Lu pikir gue sedesperate gitu nyari jodoh sampai kudu ikut-ikutan acara begituan. Ogah, gue enggak mau! Ah, ngomong sama lu juga enggak pernah bener nih”, gue jadi tambah meradang.

“Hahaha… lu kalau lagi marah mirip lampion imlek merah semua”, Nina malah meledekku

“Ah, lu apaan sih?! Asem!... Nin, kalau seandainya lu yang ada diposisi gue, gimana?”

“Hmm, sejujurnya gue juga enggak mau kalau dijodohin soalnya gue juga kan punya selera sendiri, hihihi… ini ngomongin jodoh apa makanan yak?! Tapi kalau memang ortu mau jodohin, gue mau berusaha untuk bersikap lebih jernih meskipun gue ngerasa enggak klik. Lagipula gue yakin orangtua gue pasti enggak bakal sembarangan nyariin jodoh buat gue. Setidaknya, jika hal ini bisa bikin ortu seneng gue akan berusaha ikhlas jalaninnya. Lagi pula kalau menurut gue semua tergantung gimana cara kita memenej kehidupan rumah tangga kita nantinya. Percaya deh, hahaha… gue ngomong apa sih barusan?” Nina, gila sendiri

“Tumben lu bijaksana-sini, hahaha…”

Krriiiingg… krrriiiinggg…
Suara panggilan masuk membuyarkan tawa kami, telpon dari mama ternyata

“Din, Mama berubah pikiran bukan 25 hari tapi tanggal 25. Selamat mencari cinta”, tanpa ampun mama mengakhiri telpon begitu saja

Ku lirik kalender dihadapanku, Kamis, 24 Februari. Itu berarti…
Oh my god… :(

***

75 naskah terbaik dalam lomba flashfiction 500 kata, perjodohan@hasfapublishing